SEMARANG.RILISJATENG.COM – Implementasi Program Kenali dan Cek Kesehatan Ibu Hamil (Kencan Bumil) terus diperkuat oleh Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Jawa Tengah. Melalui program itu, kader PKK didorong aktif menjangkau dan mendampingi ibu hamil secara langsung, dengan prinsip satu kader mendampingi satu ibu hamil.
Penguatan dilakukan untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat deteksi dini risiko kehamilan, meningkatkan cakupan antenatal care (ANC) dan layanan ultrasonografi (USG), serta mendukung pencegahan stunting sejak masa kehamilan.
Hal tersebut dibahas dalam webinar Penguatan Implementasi Kencan Bumil, yang diikuti pengurus TP PKK tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga desa/kelurahan se-Jawa Tengah, Selasa (11/8/2026).
Staf Ahli TP PKK Jawa Tengah, M Fatkurroji, mewakili Ketua Nawal Arafah Yasin mengatakan, kader PKK di tingkat desa dan kelurahan memiliki posisi strategis, karena menjadi garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat. Karena itu, kader perlu dibekali kemampuan untuk melakukan penjangkauan, edukasi, dan pendampingan sesuai kebutuhan ibu hamil.
Menurutnya, terdapat tiga fokus utama dalam pelaksanaan Kencan Bumil, yakni penjangkauan ibu hamil, peningkatan pengetahuan dan edukasi kesehatan, serta pendampingan berkelanjutan.
“Penguatan pengetahuannya apakah ada kelas bumil, atau adakah sosialisasi, atau lewat door to door, lalu kader memberikan pengetahuan bagi ibu hamil dan pasangannya atau keluarganya,” ujarnya.
Fatkurroji menjelaskan, pendampingan dapat dilakukan di lingkungan keluarga dan masyarakat maupun ketika ibu hamil mengakses layanan kesehatan. Kader dapat mendampingi ibu hamil saat melakukan pemeriksaan ke bidan atau puskesmas, termasuk ketika membutuhkan layanan psikologi maupun pemeriksaan USG.
“Pendampingan itu kalau dia pemeriksaan ke faskes, ke bidan atau puskesmas, termasuk pendampingan kalau juga membutuhkan layanan psikologi atau pemeriksaan USG,” katanya.
Fatkurroji menekankan, edukasi Kencan Bumil tidak hanya ditujukan kepada ibu hamil. Suami, pasangan, dan anggota keluarga juga perlu memahami kondisi serta kebutuhan ibu selama masa kehamilan, agar dapat memberikan dukungan yang tepat.
Menurutnya, pendekatan dari rumah ke rumah dapat menjadi pilihan untuk menjangkau pasangan ibu hamil yang sulit mengikuti kegiatan kelompok. Dengan cara tersebut, kader dapat memberikan edukasi secara langsung kepada ibu hamil bersama suami atau pasangannya.
“Nah, penguatan pengetahuan untuk pasangan ibu hamil cocoknya yang lewat ketuk pintu. Ketemu antara ibu hamil dan pasangannya, dan lewat pengetahuan. Kemudian yang berikutnya adalah pendampingan termasuk ke faskes,” ungkap Fatkurroji.
Saat ini, Kencan Bumil telah diterapkan di empat daerah sebagai pilot project, yakni Kota Pekalongan, Kabupaten Blora, Kebumen, dan Sragen. Program itu juga diintegrasikan dengan layanan Dokter Spesialis Keliling (Speling) Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.
Selain memperkuat pendampingan secara umum, kader juga perlu memahami prinsip dan etika ketika menjangkau ibu hamil dari kelompok rentan. Seperti korban kekerasan seksual, ibu dengan kehamilan tidak dikehendaki atau kehamilan di luar perkawinan, ibu hamil dengan HIV, serta ibu hamil usia anak.
Fatkurroji menekankan, pendampingan terhadap kelompok rentan harus dilakukan dengan menjaga kerahasiaan informasi pribadi, tidak boleh menyalahkan atau menghakimi, memberikan stigma atau label negatif, maupun melakukan diskriminasi.
Sebaliknya, pendekatan harus mengutamakan empati dan dukungan, agar ibu hamil merasa aman untuk menyampaikan kondisi serta memperoleh layanan yang dibutuhkan.
Pihaknya berharap, pendekatan tersebut dapat membuat pemantauan kehamilan akan lebih dekat, sehingga risiko dapat dikenali lebih awal dan penanganan dapat dilakukan secara tepat.







