Ketua Kelompok Nelayan Tambaklorok, Hartono mengapresiasi langkah pemerintah membangunkan sheet pile di kawasan Tambaklorok. Namun menurut dia, mega proyek tersebut dinilai masih kurang, lantaran saat musim baratan tiba ombak besar masih sering masuk dan merusak kapal nelayan.
“Kemarin kita sudah dibuatkan sheet pile, kita sangat berterimkasih. Kami ditambah pemecah ombak karena saat musim baratan tiba, tak sedikit warga ataupun perahu nelayan rusak,” katanya.
Selain itu, lanjut dia, pemerintah juga diminta untuk mengeruk muara sungai lantaran adanya sedimentasi yang sangat tebal. Hal ini membuat nelayan sulit untuk melaut karena manuver perahu cukup sulit. “Kami juga meminta untuk ada pengerukan,” tambahnya.
Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu Setelah sheet pile selesai dibangun, lanjut Mbak Ita, Pemkot akan berkomunikasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk program Kampung Nelayan Maju (Kalaju), untuk diterapkan di Tambaklorok.
“Nantinya ada jogging tracking, food court. Kami akan mulai pemberdayaan masyarkat dari sekarang agar tidak diambil orang luar untuk memanfaatkannya,” ujarnya.
Sementara itu, ketua Komisi IV DPR RI, Sudin menj
Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan, Victor Gustaf Manoppo mengatakan untuk mengatasi masalah sedimentasi, pihaknya juga tengah menyusun aturan turunan dari PP 26.
“Didalamnya termasuk kerusakan lingkungan yang terjadi dan terhambatnya nelayan untuk keluar masuk gara-gara sedimentasi. Sedimentasi ini bisa dimanfaatkan sesuai dengan program Bu Wali yang akan menutup reklamasi. Saya harap tahun ini selesai dan tahun depan bisa digunakan,” pungkasnya(RLS)







